Bandar Laksamana- Liputan99.com.id – Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis menjadi pusat perhatian pemerintah pusat dalam upaya restorasi gambut dan pencegahan Karhutla. Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Ph.D. melakukan kunjungan kerja langsung ke lokasi tersebut, Rabu (30/9/2026).
Kunjungan ini untuk melihat capaian restorasi gambut dan strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah pesisir Bengkalis.
Hadir Plt. Gubernur Riau SF Hariyanto, Kapolda Riau Irjen Pol Dr. Herry Heryawan, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Dr. Agus Hadi Waluyo, jajaran Kementerian Kehutanan dan BRGM.
Dari Bengkalis hadir Kapolres Bengkalis AKBP Eko Rubiyanto, S.H., S.I.K., M.H., Bupati Bengkalis, Dandim 0303, Kajari, serta Forkopimda, MPA, MPG, pegiat lingkungan dan tokoh masyarakat.
Dalam ekspos, Pemkab Bengkalis memaparkan data Karhutla 2026. Per 22 September (cek lapangan) tercatat 946 hektare terbakar di 87 titik. Sementara data satelit per 28 September mencatat 8.573,25 hektare di 73 titik.
Pemkab merespon dengan menetapkan Siaga Darurat Karhutla, mengaktifkan Posko Satgas Gabungan TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dan perusahaan, serta patroli terpadu dan sosialisasi larangan bakar lahan.
Untuk jangka panjang, Pemkab mendorong program RPPEG, TAKE, pembasahan gambut melalui sekat kanal, dan Sekolah Restorasi Gambut.
Kapolres Bengkalis AKBP Eko Rubiyanto menegaskan komitmen Polri dalam penanganan Karhutla.
“Penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh unsur, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, perusahaan hingga masyarakat. Polres Bengkalis berkomitmen mendukung setiap upaya pencegahan, penanganan dan penegakan hukum terhadap Karhutla,” tegas AKBP Eko.
Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar dan segera lapor ke Bhabinkamtibmas jika menemukan titik api.
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mengapresiasi langkah Bengkalis. Menurutnya pencegahan Karhutla harus dengan pemulihan gambut, bukan hanya memadamkan api.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan kunci utama adalah menjaga gambut tetap basah, karena gambut kering sangat mudah terbakar dan melepas emisi karbon besar.
Kegiatan ditutup dengan peninjauan Monumen Bitangor, sekat kanal, tata kelola air, dan pengeboran gambut.
Tina H.









