MAKASSAR — Liputan99.co.id – Malam semakin larut. Lampu-lampu kota mulai menerangi jalan yang perlahan sepi. Namun, di tengah hiruk-pikuk kehidupan, masih ada sosok perempuan renta yang langkahnya tertatih menyusuri jalan demi mencari nafkah.
Namanya Saintang Dg Kebe.
Usianya tak lagi muda. Tubuhnya telah renta dan langkahnya pun tak lagi sekuat dulu. Tetapi keadaan seolah tak memberinya pilihan. Sejak pagi hingga larut malam, Saintang tetap berjualan kerupuk dan aneka kue, membawa dagangannya dari satu tempat ke tempat lain, berharap ada yang membeli.
Bukan karena ia tak ingin beristirahat.
Bukan pula karena ia tidak membutuhkan bantuan.
Ia hanya sedang berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri.
Hingga pada suatu malam, langkah Saintang terhenti ketika berpapasan dengan dua perempuan muda. Belum jelas apakah keduanya hendak membeli dagangannya atau sekadar ingin berbagi sedikit rezeki. Namun, dari sikap dan tatapan mereka, tampak rasa iba sekaligus kepedulian yang tulus.
Ketika awak media menghampiri, kedua perempuan muda itu justru memilih diam. Mereka enggan disebutkan namanya dan tidak ingin kebaikannya menjadi sebuah kebanggaan yang harus diketahui banyak orang.
Setelah memberikan perhatian kepada Saintang, keduanya pun pergi.
Sementara Saintang kembali melanjutkan langkahnya, menjajakan dagangan yang dibawanya.
Namun ada satu hal yang justru membuat hati tersentuh.
Saintang bukan hanya menjual dagangan. Ia seperti sedang mengajarkan kepada kita semua tentang arti ketulusan dan keikhlasan.
Ketika seseorang membeli dagangannya, Saintang bahkan memberikan satu bungkus kue sebagai hadiah.
Dengan senyum sederhana, ia mendoakan orang yang membeli dagangannya.
“Panjang umur, sehat selalu…”
Kalimat sederhana itu keluar dari hati seorang perempuan yang dirinya sendiri sedang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.
Ia yang mungkin lebih pantas menerima uluran tangan, justru masih berusaha memberikan sesuatu kepada orang lain.
Di usia ketika sebagian orang mungkin telah menikmati masa istirahat, berkumpul bersama keluarga dan menikmati hari tua, Saintang masih berada di jalan.
Dari pagi Hingga malam Sendirian Mencari rezeki dengan kedua tangannya sendiri, Pendengarannya masih baik, tetapi langkahnya sudah sangat lambat. Setiap langkah seakan menyimpan cerita tentang panjangnya perjuangan hidup yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Kisah Saintang seharusnya tidak berhenti hanya menjadi sebuah berita.
Ini adalah panggilan kemanusiaan.
Bagi masyarakat, mungkin ada sedikit rezeki yang bisa disisihkan untuk membeli dagangannya. Bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih, mungkin ada bantuan yang bisa diberikan agar Saintang tidak lagi harus berjalan hingga larut malam.
Dan bagi pemerintah, kisah seperti ini semoga menjadi perhatian. Karena di tengah pembangunan kota yang terus bergerak maju, masih ada warga lanjut usia yang berjuang mempertahankan hidup dengan menjajakan dagangan di jalan.
Mereka bukan sekadar angka dalam data Mereka adalah manusia Mereka adalah warga yang juga berhak mendapatkan perhatian, perlindungan dan kehidupan yang lebih layak.
Masih Adakah hati yang peduli kepada Saintang Dg Kebe?
Adakah tangan yang bersedia membantu sebelum ia harus meminta?
Adakah pihak yang mau memastikan bahwa seorang perempuan renta seperti Saintang tidak lagi harus berjalan dari pagi hingga malam hanya demi mendapatkan sesuap nasi?
Kita tidak sedang diminta untuk mengasihani Saintang, Kita hanya sedang diingatkan bahwa di sekitar kita mungkin masih banyak orang tua yang berjuang dalam diam.
Mereka menahan lelah tanpa mengeluh.
Menahan lapar tanpa meminta.
Dan tetap tersenyum meski kehidupan tidak selalu berpihak kepada mereka.
Saintang Dg Kebe telah mengajarkan satu hal sederhana:
Keterbatasan tidak selalu membuat seseorang kehilangan keikhlasan.
Justru terkadang, orang yang hidup dalam kekurangan adalah orang yang paling memahami arti berbagi.
Semoga kisah ini mengetuk hati masyarakat dan membuka mata pemerintah untuk hadir memberikan perhatian nyata.
Jika ada rezeki, jangan ragu berbagi.
Jika melihat kesulitan, jangan memilih berpaling.
Dan jika mampu membantu, jangan menunggu mereka meminta.
Sebab bagi kita, mungkin hanya sebuah pembelian kecil atau uluran tangan sederhana.
Tetapi bagi Saintang Dg Kebe, itu mungkin berarti harapan untuk kembali tersenyum dan menjalani hari esok.
Saintang Dg Kebe masih berjalan.
Masih berjualan.
Masih berjuang.
Dan mungkin, masih menunggu uluran kepedulian dari kita semua.
Penulis: Kanda Ali
Editor: Red









