Banyumas Jateng .Liputan99.co.id – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Pasinggangan, Kecamatan Banyumas, tetap menjaga warisan budaya leluhur melalui tradisi Memetri Bumi.
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini bukan sekadar ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi momentum mempererat persatuan, gotong royong, dan kepedulian sosial antarwarga.
Rangkaian kegiatan diawali dengan arak-arakan hasil bumi yang diikuti masyarakat dari berbagai dusun.
Beragam hasil pertanian dibawa secara bersama-sama sebagai simbol melimpahnya rezeki dan harapan agar tanah tetap subur serta hasil panen semakin baik pada musim berikutnya.
Acara tersebut turut dihadiri unsur Forkopimcam, Kepala Desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta ratusan warga yang memadati lokasi kegiatan.
Kepala Desa Pasinggangan, Aris Sugiyono, S.H., menegaskan bahwa Memetri Bumi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tradisi tahunan.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi pengingat pentingnya rasa syukur sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat dalam membangun desa.
“Kegiatan ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, menjaga guyub rukun, dan mempererat kebersamaan agar pembangunan desa semakin maju,” ujar Aris Sugiyono, Sabtu (27/6/2026).
Sementara itu, Ketua Panitia, Tuslam Darwidi, mengatakan seluruh rangkaian acara terlaksana berkat semangat gotong royong masyarakat.
Partisipasi warga, menurutnya, menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Sebagai puncak acara, masyarakat disuguhkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan Ki Dalang Gendroyono dari Purbalingga.
Melalui lakon yang disajikan, pertunjukan wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan moral tentang kebijaksanaan, kerja keras, serta pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi Memetri Bumi di Desa Pasinggangan diharapkan terus menjadi identitas budaya yang mampu diwariskan kepada generasi muda.
Dengan menjaga tradisi, masyarakat tidak hanya melestarikan kearifan lokal, tetapi juga memperkuat nilai persatuan sebagai modal utama dalam membangun desa yang maju, rukun, dan sejahtera.









